Ketahui Mitos Dalam Memilih Jurusan yang Perlu Kamu Hindari

14 September 2021

Blog Cover

Penulis: R. Moch Khoiruddin

Memilih jurusan adalah masalah yang besar bagi sebagian siswa, mungkin kamu juga mengalami. Ketika memasuki fase ini kamu mungkin memiliki pertanyaan yang juga dimiliki banyak siswa lainnya, "bagaimana saya memilih jurusan yang tepat untuk masa depan?".

 

Perkara ini penting bukan hanya karena terkait karir tetapi juga dikarenakan orang tuamu menghabiskan banyak uang untuk kuliah. Tentu mereka tidak ingin membuang uang dengan hal yang sia-sia bukan? Benar, tetapi tidak sesederhana itu.

 

Gagasan bahwa jurusan kuliah selaras dengan karir itu tidak salah tetapi tidak sepenuhnya benar sebab banyak lulusan yang memiliki karir yang "meleceng' atau bahkan berpindah dalam jangka waktu lima tahun. Anggapan itu adalah salah satu mitos yang masih dipercaya calon mahasiswa dan orang tua ketika akan memilih jurusan kuliah. Dalam artikel ini kami berbagi lima mitos yang sering diyakini oleh banyak orang, termasuk kamu.

 

1. Jalur SNMPTN itu masalah keberuntungan

pexels-laura-tancredi-7083881.jpg

Sumber: www.pexels.com

 

Nah itu juga sering dipercaya oleh para calon mahasiswa karena rumor yang didapatkan dari para alumni sekolah. Memang agak mengherankan jika ada siswa yang nampaknya mendapat ranking biasa saja di kelas tetapi diterima di perguruan tinggi atau jurusan favorit daripada siswa lain yang lebih berprestasi. Akibatnya, banyak orang menganggap hal itu hanya perkara nasibnya sedang mujur atau tidak.

 

Tentu saja anggapan ini salah sebab dalam SNMPTN tiap kampus memiliki standar penilaian yang berbeda-beda. Nilai rapor memang penting karena itu adalah modal utamamu yang akan dilihat oleh perguruan tinggi. Namun, ada faktor lain seperti prestasi di dalam dan luar sekolah yang diperhitungkan.

 

Tak hanya itu, ada juga faktor eksternal di luar kendalimu yang juga berpengaruh pada besaran peluang untuk diterima. Misalnya, jumlah kuota dan jumlah pesaing bakal merepresentasikan betapa ketatnya untuk diterima. Selain, itu nilai indeks sekolah menurut PTN tujuanmu juga berbeda-beda. Bisa saja ada kasus kakak tingkatmu yang diterima lewat jalur ini tetapi tidak diambil. Tentu saja hal ini membuat kampus menurunkan indeks sekolahmu dan pada akhirnya mempengaruhi peluangmu untuk lolos.

 

Untuk mengantisipasi hal ini kamu bisa berkonsultasi dengan BK di sekolahmu apakah ada kasus serupa yang terjadi? Selain itu kamu juga bisa meminta indeks sekolahmu menurut perguruan tinggi pilihanmu. Agar lebih meyakinkan kamu bisa meminta data tentang jurusan dan kampus mana saja alumni diterima sehingga kamu bisa memilih perguruan tinggi serupa. Walaupun begitu, kamu mesti mendahulukan jurusan dan PTN yang kamu minati terlebih dulu.

 

2. Jurusan kuliah menentukan karirmu

pexels-sora-shimazaki-5673488.jpg

Sumber: www.pexels.com

 

Selanjutnya adalah anggapan dari mahasiswa dan para orang tua bahwa memilih jurusan berarti sama dengan memilih karir. Memang, kedua pilihan tersebut terkait, tetapi bukan berarti secara otomatis kamu memilih jurusan itu pasti berkarir di bidang tertentu. Misalnya, jika kamu memilih jurusan kimia maka akan bekerja di lab atau jika mengambil jurusan sastra maka kamu bakal menjadi penulis.

 

Keyakinan tersebut perlu kamu hindari karena dalam memilih pekerjaan nantinya akan ada banyak faktor yang akan berperan. Beberapa hal seperti pengalaman organisasi, koneksi dengan alumni dan keterampilan lain yang kamu pelajari secara berbeda bakal mempengaruhi apakah kamu diterima pada suatu pekerjaan atau tidak. Apalagi, ketika kuliah nantinya terdapat peluang kalau kamu bakal tidak tertarik lagi dengan jurusanmu tetapi tertarik pada bidang lain yang tidak diajarkan di kelas.

 

Tak hanya itu, ada juga kemungkinan bahwa ketika sudah bekerja pun kamu bakal berganti pekerjaan. Jika demikian, kamu tidak sendirian sebab sebagian besar pekerjaan juga berubah seiring waktu, terlepas dari apakah kamu menginginkannya atau tidak. Banyak pekerjaan yang ada saat ini akan sangat berbeda lima tahun dari sekarang atau bahkan mungkin sudah usang saat itu.

 

Jenis pekerjaan baru muncul setiap tahun dan kebanyakan dari kita tidak memiliki cara untuk mengetahui pekerjaan apa itu atau jenis pendidikan apa yang dibutuhkan agar memenuhi syarat untuk itu. Oleh karena itu, semuanya sangat dinamis sebab orang bisa berubah, begitupun pendidikan dan pekerjaan nantinya. Hubungan antara jurusan yang kamu pilih sekarang dan karier yang akan kamu temukan dalam sepuluh tahun dari sekarang kemungkinan besar ditentukan seberapa usaha kamu mencapai hal itu.

 

3. Jurusan saintek menawarkan gaji yang lebih tinggi

pexels-chokniti-khongchum-3938023.jpg

Sumber: www.pexels.com

 

Rumpun jurusan saintek, terutama STEM (science, technology, engineering and mathematics) tidak bisa disamakan semuanya. Memang benar jurusan seperti ilmu komputer dan teknik menawarkan gaji di atas rata-rata, tetapi bukankah gaji untuk jurusan lainnya terbilang beragam. Kita acapkali tergoda dengan iming-iming gaji yang didapat dari lulusan pendidikan tertentu. Namun, pilihan ini mengabaikan banyak faktor lainnya dan yang utamanya minatmu sendiri.

 

Poin yang mesti dipahami adalah kamu memilih jurusan dan perguruan tinggi yang benar-benar minatmu sejak awal. Dengan demikian kamu memiliki semangat yang lebih untuk terus memperdalam pengetahuan dan keterampilan. Akibatnya, kamu dapat menjadi lulusan unggulan dalam jurusan yang dianggap sulit mendapat pekerjaan atau bergaji rendah.

 

Coba pikirkan apa gunanya menjadi mahasiswa dari jurusan dengan peluang gaji yang tinggi dan pekerjaan yang lebih luas tapi prestasimu biasa-biasa saja ketimbang menjadi mahasiswa yang sungguh terampil dan berprestasi dalam jurusan yang langka. Pada akhirnya bukan jurusan kuliah yang menentukan masa depanmu.

 

Tak cuma itu, menurut Douglas A. Webber, seorang profesor ekonomi di Temple University, mendambakan jika lulusan sastra inggris atau ilmu sejarah berpenghasilan di atas rata-rata pendapatan seumur hidup dibandingkan lulusan biasa dalam jurusan bisnis dan STEM tadi. Oleh karena itu, kamu sebaiknya tidak membatasi dirimu untuk memilih jurusan dengan tawaran gaji yang tinggi. Galilah potensi dan minat sebenarnya darimu itu adalah sesuatu hal yang menyenangkan.

 

4. Jurusan sosial sulit mendapatkan pekerjaan

feedback-2990424_1920.jpg

Sumber: www.pixabay.com

 

Jurusan sosial, terutama seni dan sastra acapkali dianggap tidak memiliki masa depan. Banyak pandangan yang meyakini bahwa jurusan humaniora seperti filsafat, sastra, dan ilmu sosial bakal sulit mendapat pekerjaan setelah lulus. Keyakinan ini berangkat dari asumsi bahwa jurusan-jurusan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan industri.

 

Tak hanya itu, jurusan ini juga mendapat stigma sebagai jurusan gampangan karena tidak susah untuk dipelajari atau yang paling populer karena jurusan tersebut tidak mempergunakan matematika dalam kuliahnya. Pandangan tersebut karena beberapa jurusan seperti hukum dan filsafat pun ada hitungannya jika ditekuni lebih dalam. Apalagi pada beberapa disiplin membutuhkan penelitian kuantitatif yang membutuhkan kecakapan dalam berhitung.

 

Keyakinan bahwa rumpun jurusan sosial tidak dapat pekerjaan bisa dibilang mengabaikan kenyataan ekonomi modern yang mana banyak pekerjaan campuran keterampilan. Kamu pasti tahu jika jurusan sastra, filsafat, atau ilmu sejarah dituntut memiliki keterampilan menulis yang bagus. Nah, bayangkan jika kelebihan ini ditambah dengan keterampilan mengenai SEO dan digital marketing. Tentu, mereka bakal berpeluang menjadi content writer atau copywriter handal bukan?

 

Oleh karena itu, lulusan jurusan sosial akan menjadi lebih unggul ketika mereka menguasai keterampilan yang dibutuhkan dalam industri. Lagipula, rumpun jurusan sosial juga memiliki spektrum pekerjaan yang amat luas. Misalnya, pekerjaan menulis yang diajarkan pada jurusan ilmu komunikasi dan sastra, pekerjaan yang berorientasi yang diajarkan di psikologi, sosiologi dan filsafat, hingga pekerjaan pada bidang akademisi yang bisa kamu mulai dari jurusan ilmu sejarah atau disiplin ilmu lainnya.

 

5. Pindah jurusan berarti buang-buang waktu

board-978179_1920.jpg

Sumber: unsplash.com

 

Memiliki pikiran bahwa kamu bakal salah jurusan adalah hal yang biasa. Banyak mahasiswa yang berpikir jika jurusan yang ia inginkan saat sekolah menengah berbeda sama sekali dibandingkan ketika sudah dijalani. Pikiran ini biasanya muncul ketika kamu mempercayai berbagai stigma mengenai jurusan-jurusan tertentu. Misalnya, anggapan anak psikologi itu bisa membaca pikiran. Oleh karena itu, untuk mengantisipasinya sebaiknya carilah informasi sebanyak-banyaknya jurusan dan perguruan yang bakal dipilih.

 

Hanya saja, ketika kamu merasa bahwa kamu salah memilih jurusan mungkin kamu juga berkeyakinan bahwa itu adalah sebuah kemunduran. Kamu mungkin berpikir bahwa kamu akan mengulanginya dari awal dengan susah payah karena harus melalui berbagai tahap dan ujian untuk masuk ke kampus dan jurusan impian. Proses itu memang tidak bisa kamu hindari dan berhenti di tengah jalan serta mengubah arah ke jalan yang lain. Sehingga kamu akan menghabiskan lebih banyak waktu.

 

Hal itu memang masuk akal. Namun untuk beberapa perguruan tinggi ada peluang kamu bisa mentransfer nilai mata kuliahmu di jurusan sebelumnya ke jurusan yang baru.  Dengan demikian kamu tidak perlu mengulangi mata kuliah yang sudah kamu pelajari sebelumnya dengan baik. Meskipun aturan ini berlaku hanya untuk beberapa mata kuliah umum yang dipelajari oleh mahasiswa dari berbagai jurusan seperti mata kuliah agama atau pendidikan warga negara.

 

Maka dari itu, jika pada akhirnya nanti mengalami hal serupa kamu tak perlu malu. Kamu bisa pindah jurusan di tahun depan daripada tersiksa mempelajari apa yang sesungguhnya tidak kamu sukai. Apalagi jika nantinya kamu akan berkarir pada bidang yang selaras dengan jurusan itu. Tentu kamu semakin tidak nyaman bukan? Oleh karena itu sebaiknya ketahui lebih jauh dari sekarang apa potensi dan minatmu sebenarnya.

 

 

Berbagai mitos perlu kamu hindari ketika kamu akan memilih jurusan nantinya. Sebab, tidak selamanya anggapan masyarakat itu sepenuhnya benar sebab dunia kerja dan pendidikan itu amat dinamis.

 

Setali tiga uang kamu pun begitu. Boleh jadi sekarang kamu tertarik pada jurusan akuntasi tetapi ketika kuliah kamu justru lebih tertarik pada jurusan hukum misalnya. Tidak ada yang bisa menebak perubahan setiap orang. Namun tetap saja kamu perlu memilih jurusan yang sesuai dengan potensi dan minatmu.

 

Tag :

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11


Rekomendasi Artikel