Bisa Baca Kepribadian Hingga Peka-an, Begini 5 Mitos Jurusan Psikologi

25 September 2021

Blog Cover

Penulis: Adzhar Rachmat Ramadhan

 

Siapa nih yang bermimpi masuk jurusan psikologi? Kamu udah tahu belum nih kalau ada mitos-mitos nyeleneh jurusan psikologi? Pastinya bikin kamu geleng-geleng kepala, deh. Lalu, mitos-mitos psikologi apa saja itu? Simak, yuk!

 

1. Bisa Baca Kepribadian

face-1370958_1920.jpg

Sumber: www.pixabay.com

 

“Eh lu kan anak psikologi, baca kepribadian gua, dong!” Mahasiswa psikologi pernah denger itu gak? Pasti dong, ya. Hehehe… Memang sih psikologi bisa mempelajari kepribadian seseorang, tetapi ada beberapa serangkaian tes, ya. Tentunya, tidak 100% benar atau salah karena ada beberapa kemungkinan. Jadi, tidak berasal dari garis wajah apalagi membaca ramalan di telapak tangan, ya. 

 

2. Orangnya Peka Banget

face-535769_1920 (1).jpg

Sumber: www.pixabay.com

 

Anak psikologi biasanya dikaitkan dengan jago percintaan karena katanya peka terhadap perasaan orang lain. Hal itu belum tentu, ya. Sebab, ada beberapa metode ilmiah dan serangkaian prosedur psikologis yang harus dilakukan. So, jadi jangan berharap  udah dapat pacar anak psikologi, si Doi bakal peka sama perasaan kamu.

 

3. Prospeknya Sedikit: Guru BK dan HRD

pexels-andrea-piacquadio-3771097.jpg

Sumber: Andrea Piacquadio

 

Kalau di sekolah, anak psikologi sering berprofesi dengan guru BK. Kalau di perusahaan, anak psikologi sering berkaitan dengan bidang HRD. Jadinya, banyak orang yang memilih menghindar dari jurusan ini karena mitos itu. Faktanya, prospek kerja psikologi banyak, kok. Kamu bisa menjadi ahli konsultan, peneliti, konselor, dan masih banyak lagi. Tentunya, tergantung usaha dan doa kamu untuk memilih profesi yang diinginkan juga, ya.

 

4. Sering Disama-samakan dengan Psikiater

pexels-cottonbro-4100486.jpg

Sumber: Cottonbro

Ini salah besar, ya! Psikologi dengan Psikiater itu beda jauh, gengs! Perbedaan yang cukup mendasar antara dua profesi tersebut, yakni ruang lingkup ilmunya. Psikologi lebih mengarah kepada Soshum sedangkan psikiater lebih mengarah kepada Saintek. Psikologi bisa memberikan terapi kepada klien, tetapi tidak bisa memberikan obat. Psikiater karena lulusan kedokteran dan terlatih di bidang psikiatri, maka berhak memberikan obat kepada klien.

 

5. Jadi Pendengar Cerita 

pexels-shvets-production-7203774.jpg

Sumber: Shvets Production

 

Nah ini paling sering, sih. Kalau kamu bermimpi masuk psikologi, maka bersiap-siaplah akan didatangi teman kamu buat curhat. Disana, tugas kamu mendengarkan mereka dan memahami perasaannya. Kalau curhatnya pendek sih, bukan masalah, tetapi bagaimana kalau curhatnya berjam-jam? Wah, capek banget, tuh. Ditambah tidak ada biaya konsultasinya lagi, hehehe…. Sebenarnya, tugas psikologi tidak hanya curhat aja sih. Ada lagi tugas psikologi yang tidak hanya mendengarkan, tetapi juga memberikan terapi, pemahaman, dan beberapa saran untuk klien. 

 

Nah, itu tadi beberapa mitos yang juga jadi derita anak psikologi, nih. So, buat kamu pejuang PTN yang bermimpi masuk psikologi, mending pasang tameng deh untuk menangkal mitos-mitos ini, yak! 

 

 

Tag :

Jurusan, Psikologi, SBMPTN, Mandiri, SIMAK, Universitas, Kuliah, Kampus, Prodi


Rekomendasi Artikel